Meski lincah dalam bermanuver dan bisa ngebut untuk mengejar speed boat perompak, kapal perang di Satrol umumnya hanya dibekali persenjataan secara terbatas. Jangan bicara soal rudal dan torpedo di Satrol, karena kedua senjata tadi di lingkungan TNI AL sudah menjadi ‘pegangan’ Satuan Kapal Eskorta yang terdiri dari frigat dan korvet, dan Satuan Kapal Cepat yang terdiri dari unsur KCR (Kapal Cepat Rudal) dan KCT (Kapal Cepat Torpedo). Di lingkungan Satrol TNI AL, hingga kini senjata penggebuk kriminal di lautan maksimum masih dipercayakan pada kanon Bofors 40mm, kanon Bofors ini terdapat pada kapal patroli jenis Attack Class buatan Australia. Sementara kebanyakan sebatas mengadopsi kanon Oerlikon 20mm, dan SMB (senapan mesin berat) kaliber 12,7mm.
Karena fungsi patroli yang cukup menantang, ditambah luasnya coverage yang harus dipantau, Satrol TNI AL terbilang satuan yang paling banyak memiliki unit kapal dalam binaannya. Dikutip dari situs Wikipedia.org, setidaknya ada kelas Boa (9 kapal), kelas Viper (5 kapal), kelas Kobra (5 kapal), kelas Tarihu (4 kapal), kelas Krait (2 kapal), kelas Cucut (2 kapal), kelas Sibarau (7 kapal), kelas PC-43 (1 kapal), dan kelas Badau (2 kapal). Sebagian besar kapal di Satrol TNI AL merupakan buatan Dalam Negeri oleh Fasharkan (Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan) TNI AL, seperti kelas Boa, Viper, Kobra, Tarihu, dan Krait. Kecuali kelas Krait yang berlambung bahan alumunium, Boa, Viper, Kobra, dan Tarihu mengandalkan bahan fiberglass untuk lambung kapalnya.
KDB Waspada P02 (sekarang KRI Salawaku
842) dan KDB Seteria P04, tampak saat kunjungan memeriahkan Arung
Samudra Tahun 1995 di Tanjung Priok.
Sesuai judul tulisan, KRI Badau dan juga KRI Salawaku disebut sebagai yang tercanggih di kelas Satrol, lantaran platform awal dari dua kapal ini terbilang paling maju diantara kapal-kapal di kelas Satrol. KRI Badau 841 (ex KDB/Kapal Diraja Brunei – Pejuang P03) dan KRI Salawaku (ex KDB Waspada P02) aslinya bisa menggotong rudal anti kapal (anti ship missile) jenis MM-38 Exocet, satu kapal terdiri dari dua platform peluncur. Dengan standar kapal cepat rudal, sudah lumrah bila sistem elektroniknya lumayan memadai untuk peperangan laut, sebut saja ada radar Kelvin Hughes Type 1007 nav (surface search). Juga dilengkapi sista untuk perang elektronik (electronic warfare) dengan Decca RDL-2 Intercept dan E/O Rademac 2500 Tracking.
Selain rudal Exocet, untuk menghajar target di permukaan dan anti serangan udara, dipercayakan pada Oerlikon twin cannon CGM-B01 kaliber 30 mm. Khusus untuk kanon ini telah kami kupas secara mendalam disini. Senjata lain yang disertakan adalah 2 unit SMS (senapan mesin sedang) kaliber 7,62 mm untuk pertahanan diri jarak dekat. Kapal jenis ini dapat menampung 4 perwira dan 20 ABK (anak buah kapal)
Dilihat dari spesifikasi mesin, kapal ex-Brunei ini juga cukup perkasa, ditengai dua mesin diesen MTU 20V 538 TB91b 9000 bhp. Kecepatan maksimumnya yakni 32 knots (59 km/jam), sementara kecepatan jelajahnya 14 knots. Jarak jelajahnya hingga 1.200 nm atau 2.200 km. Kapasitas bahan bakar yang dapat dibawa adalah 16 ton.
Dirunut dari sejarahnya, kedua kapal patroli ini dibuat oleh galangan kapal Vosper Thornycroft, Singapura. KDB Pejuang P03 (KRI Badau) meluncur sejak tahun 1979, sedangkan KDB Waspada P02 (KRI Salawaku) meluncur di tahun 1978. Meski kedua kapal perang ini ‘kembar,’ tapi ada perbedaan sedikit, ini bisa dilihat dari desain deck anjungan atas. Pada KRI Badau menggunakan deck terbuka dengan penutup canvas, sementara KRI Salawaku deck atasnya tertutup, seperti halnya deck anjungan dibawah.
Dari Satuan Kapal Cepat ke Satuan Kapal Patroli
Saat pertama kali kedua kapal ini diserahkan dan kemudian diresmikan sebagai arsenal armada TNI AL. KRI Badau dan KRI Salawaku masuk sebagai elemen satuan kapal cepat. Hal ini ditandai dengan nomer lambungnya, KRI Badau 643 dan KRI Salawaku 642. Dari segi identitas lambung, 6xx memang menjadi penanda kapal cepat di lingkungan TNI AL, baik kapal cepat rudal dan torpedo.
Meski KRI Badau dan KRI Salawaku aslinya bisa dilengkapi rudal, tapi pada kenyataan saat kapal ini diserahkan ke Indonesia sudah tidak lagi dilengkapi rudal. Belum diketahui, bagaimana dengan sistem elektronik dan navigasi kapal, apakah ikut ‘dikurangi’ kemampuannya. Secara teori, bukan tak mungkin bila Badau dan Salawaku di setting kembali untuk dipasangi rudal anti kapal jenis C-705 dan C-802 buatan Cina. Tapi menurut penuturan mantan perwira di KRI Badau, body kapal patrol tersebut dinilai sudah cukup tua, sehingga kurang pas bila dipasangi rudal anti kapal.
KRI Badau dan KRI Salawaku dengan nomer lambung lama, saat menjadi arsenal Satuan Kapal Cepat TNI AL
Seandainya KRI Badau dan KRI Salawaku dapat dilengkapi kembali dengan MM-38 Exocet, maka kedua kapal perang ini bisa punya daya gempur yang hampir setara dengan KCR kelas Dagger (KRI Mandau, KRI Rencong, KRI Keris, dan KRI Badik ). Keempat kapal buatan Korea Selatan ini juga dipersenjatai MM-38 Exocet sebanyak 4 peluncur pada tiap kapal. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi KRI Badau 841
- Tipe : Fast attack craft
- Bobot : 206 tons (full load)
- Panjang : 37 meter
- Draft : 1.8 meter
- Mesin : 2 MTU 20V 538 TB91 diesels
- Kecepatan : 32 knots (59 km/h)
- Jarak jelajah : 200 nautical miles (2,200 km) at 14 knots (26 km/h)
- Sensors and processing systems : Kelvin Hughes Type 1007 (surface search)
- Electronic warfare : Decca RDL ESM